Saturday, 18 December 2010

Menangis di ujung Desember tahun ini

Aku sedang ingin menangis,aku juga sedang ingin tertawa
aku sedang ingin sebanyak keinginan...
aku kembali ingin menangis. Menangis di ujung Desember tahun ini
menangis untuk selembar janji, aku sadar untuk harus menangis...
dan aku harus menagih untuk menangis,
aku sampai harus mengais tangis,,
kutitipkan air mata ini di pipimu wahai sahabat,
dalam urai yg tak terbendung
hingga jakarta melayang,,,
serpihan tangis ini masih menggaru, sangat dalam
diatas tanah kesemrawutan.....

Boleh berpikir dua atau tiga kali

Sebabnya belum tentu beradu adab, semakin detik berganti semakin sengit mencari arti. Selangkah hati ini pasrah pada layu daun di batas kanvas. segalanya resah, segalanya berkeluh dosa, dosa ..dosa...mendesah,
semakin sakti untuk mengingkari....tuhan damaikan hati..damaikan hati...
katanya boleh berpikir dua atau tiga kali, tapi untuk apa yang sendiri seperti ini
kota akan kembali sepi...
berarti semakin tak berarti...

Sunday, 3 October 2010

Sehari lagi selesai

Bila kita terus terang untuk mengakui, rasanya nilai-nilai peristiwa akan menjadi lebih santun. demikian halnya dengan canda, tawa, dan air mata, semuanya laris terjual. Bayangan senja selalu malu mengintip pada sajak cantik yang berderai rasa. butir hati kita sedari dulu mengatakan "iya". untuk sejumlah ilustrasi hidup. bukan saja indah tapi jika sehari lagi selesai, kita akan siap menyapa lusa dengan luapan asa.

Saturday, 4 September 2010

Menata Anugerah

Setiap hari kita menata.Entah berapa lama lagi kita akan menata.Jendela yang mulai kusam,pintu dan langit-langit rumah malah hitam legam.lumrah saja,sehari ini aku tersibukan oleh pagi,siang,dan sore yg datang.aku basahi detik detiku dengan air sungai.cermin menjadi mangkok hidupku,padanya ada gelap gulita yg terus menata anugerah.

Friday, 16 July 2010

Ruang Kebingungan

Bukan satu atau dua alasan terurai, semuanya menjelaskan. setiap silih bergantinya lembar, setiap itu pula ruang kebingungan mengudara. ada apa dengan tanya? tak bolehkah. agama bukan tekstual, tapi seluruh literaturnya hadir dalam teks-teks resmi. Ilmu ternyata telah pergi bagi pemiliknya, dan literatur itulah sarinya. Ruang ini sangat dalam, menusuk, dan kadang kutelan mentah-mentah. aku bukan kesadaran mutlak, aku bukan kepalang ajar. justru belajar aku sekarang untuk sedikit berhati jalan. Aku menyadur hari-hariku dengan pujian keberanian, dan sedikit kutukan kelewatan. Aku tetap santun mengelola kata. Hati ini, nurani katanya! sisanya suara hati kayaknya. Perpaduan peluit jaman yang menggetarkan, remuk meggerogot bola salju perjalanan. Tak paham biarlah saja. Aku tak payah menyemai ruang bingunku, aku tak akan lelah, dan aku tak akan ambil apa sajalah!!! aku berdiri bersama JanjiNYa...

Friday, 7 May 2010

Ayat-ayat sunyi

Rangkaian hidup membentang seperti permadani
bercorak, dan bergemericik kisahnya
semua dibaca, semua dilihat, dan semua didengar
cerah, indah, merekah,
namun semuanya melamun
terpasung dalam kesenyapan angka
ada malam yang terkadang hilang
sembari bertaubat, retakan itu menggerombol
malam yang lain gelap tak berupa
segaris doa menyesakan dada
menghantarkan satu senyum tak resmi
dan sekuncup air mata abadi
aku bertolak menuju depan pintu hati
melempar setali kata janji
mahkota usangpun akan kucari
ayat-ayat sunyi dimana kau berteduh
ajari aku merogoh jejak suci itu
tampaknya indah, indah sekali
dan kita menapaki dengan seenak hati

Thursday, 25 February 2010

Kebutuhan yang Diwajibkan

Barisan yang satu, barisan yang dua, barisan yang tiga,baris berbaris menggaris lurus.
merumuskan satu jalur terencana. Kewajiban atas kebutuhan menjadi semacam cindera mata abadi. Semangkuk ilmu berlari mengantar hangat kata mati itu, harapan ini akan segera pudar, menumbuk sejumlah batu nisan. Pemberhentian akhir yang tak berpangkal, serabut keinginanku yang jatuh di tepian waktu, terendus oleh setan keparat. Tuhan pertemuan dengan-Mu, janji-Mu bagi manusia terkutuk dan tertaqwa, Tuhan gapai hamba dengan bimbingan, dengan petunjuk, dan dengan hidayah-Mu. Kebutuhanku yang diwajibkan,aneh bukan kepalang, malu bukan terancang. Bagaimana ini? aku masih seperti si bayi kecil, yang harus di wajibkan,padahal itu kebutuhanku sendiri.Tuhan ampuni hamba yang takabur oleh janji-janji. Sesungguhnya sholatku,ibadahku,hidupku, dan matiku, ingin ku serahkan pada-Mu. Perjumpaan dengan-Mu,ketakutan ini menjadi-jadi,bagaimana aku mempertanggungjawabkan nikmat-Mu,ya Allah............