Monday, 19 December 2011
Ketika shalat menjadi saksi
Berucap dengan fasih mulut ini, melantunkan seluruh prosesi dengan khitmad. berharap-harap cemas, memohon setiap dentuman kata mampu menembus langit dan merunduk di hadapan Illahi Rabbi. Merangkai permohonan penuh sendu, memojok dengan kalimat-kalimat teduh, membayangkan sungai-sungai yang mengalir dan menyejukan, rasanya dahaga ini berulang dan terus berulang. Manusia itu " wajar" bermaksiat, benarkah? ada taubat yang mahal tak terkira. ketika shalat menjadi saksi atas kekurang sungguhan pena ini memohon. Dengan luapan penuh kasih sayang Dia gapai serangkai kalimat dengan satu atau dua puluh tujuh pahala. Adakah pena ini bertanya, sudah sungguhkah kita memohon padaNya. Dunia dan seluruh tabiatnya, menghempaskan pena ke titik terbusuk kekhusu'an kecuali rahmatNya....Duhai Illah kami, jemputlah kami dalam RidloMu...........
Subscribe to:
Comments (Atom)