berupa lintasan kata, itu sudah menjadi kebiasaan.
seakan memang detik untuk bersapa senja kian menjadi nyata.
atau mungkin ini menjadi sebuah cuplikan curahan hati, entah saja.
berbinar semua resapan.
garis-garis itu kini semakin berani, setidaknya untuk satu dua mimpi.
sedikit terkelupas dan kemudian merapat lagi, elok sekali.
senin dan selasa menjadi bilangan sejenak hamparan hari.
sejumlah kalimat merayap melintasi selubung bola-bola salju
gemerlap esok telah begitu mengerak dalam rongga semangatku
namun, kegetiran berprasangka seakan menghujani dengan beribu kekhawatiran
demikian nyatakah kelemahan ini, atau sebenarnya ada ledakan dahsyat yang sedang menggelembung.
hembusan nafas yang kini ke seribu kali, juga telah membawa jiwa ini berlari.
aku bukan pelari tercepat, tapi aku akan menciptakan pelari tercepat.
khayalku untuk esok dan judul-judul yang telah siap aku produksi untuk esok.
Sehingga judulnya esok pasti akan segera aku beranikan diri.
Thursday, 31 December 2009
Tuesday, 1 December 2009
Kuingin Privat dari-Mu
Tuhan, aku menangis lagi. benar saja aku menangis
aku sedang mengais lilitan air mata ini, tuhan aku sembari berlari di penghujung kanal negeri ini. mengadu, iya benar adanya. Kuadukan semua kegundahan ini
beras itu belum pergi, bumbu dan santan masih menyelimuti.
tuhan aku bagai pelabuhan tak bertepi.
lantaran hari semangat berbakti, sedih dan kalung hatiku ini berani berluka.
Engkau tau yang terbaik, Engkau memberi dan terus memberi.
aku meminta dan terus meminta.
Tuhan bulan purnamapun enggan bersapa, tuhan aku bersenandung dengan dosa...
kuingin privat dari Mu, kiranya para hamba yang sholeh bisa,
aku yang biasa ini, kembali berusaha,
tuhan, dunia ini membimbingku ke neraka, ku harap privat dariMu yang teramat kuat.
Tuhan rasa sayang dan cinta ini kuharap terlukis indah di padang manapun berkisar.
lantaran semua yang disampingku saat ini, aku mengenal Mu, aku mulai benar-benar mencintai MU.
Tuhan...ku.........ya Allah....ampuni kelewatan kata hati ini,
Duhai Allah mohon ijinkan hamba
aku sedang mengais lilitan air mata ini, tuhan aku sembari berlari di penghujung kanal negeri ini. mengadu, iya benar adanya. Kuadukan semua kegundahan ini
beras itu belum pergi, bumbu dan santan masih menyelimuti.
tuhan aku bagai pelabuhan tak bertepi.
lantaran hari semangat berbakti, sedih dan kalung hatiku ini berani berluka.
Engkau tau yang terbaik, Engkau memberi dan terus memberi.
aku meminta dan terus meminta.
Tuhan bulan purnamapun enggan bersapa, tuhan aku bersenandung dengan dosa...
kuingin privat dari Mu, kiranya para hamba yang sholeh bisa,
aku yang biasa ini, kembali berusaha,
tuhan, dunia ini membimbingku ke neraka, ku harap privat dariMu yang teramat kuat.
Tuhan rasa sayang dan cinta ini kuharap terlukis indah di padang manapun berkisar.
lantaran semua yang disampingku saat ini, aku mengenal Mu, aku mulai benar-benar mencintai MU.
Tuhan...ku.........ya Allah....ampuni kelewatan kata hati ini,
Duhai Allah mohon ijinkan hamba
Wednesday, 18 November 2009
Serpihan Permohonan
Sejenak berdekap dengan sunyi,
hingga tak ada lagi yang mengusik
aku kembali mengadu
aku kembali tak hendak berputus duka
karena memang tak sempurna
berlari dan terus berlari dengan sebutir do'a
dari tabuh subuh hingga gelap merayap
tak terbatas dalam aksara
aku sebutir harapan yang sedang melayang
adalah takdirNya yang harus terus ku tatap
meski kadang terbata
aku dengan segelintir sunyi mencari arti
berusaha menentramkan kegelisahan
aku membangun keberanian untuk bersahabat
do'o-do'a ini barangkali saksinya
atas sungguh ketidaksempurnaan jiwa
makanya aku terus menjari
menelusuri selaput serpihan permohonan
ampunan, kasih sayang, pemeliharaan,
bagiMu Rabb yang aku puja
aku tak berani banyak berharap
aku ingin belajar menjadi hamba yang tulus bersyukur
aku ingin belajar mengabdi dengan ikhlas
aku ingin belajar menjalani hari-hari penantian dengan sabar
aku ingin belajar berdo'a dengan secarik data
aku ingin menjadi bagian dari yang Engkau sayangi
aku ingin tetap dan tetap berdo'a
hingga suara ini beruban dan bahkan berubah menjadi segores kata saja
baris do'aku akan terus merayap di selubung waktu
hingga tak ada lagi yang mengusik
aku kembali mengadu
aku kembali tak hendak berputus duka
karena memang tak sempurna
berlari dan terus berlari dengan sebutir do'a
dari tabuh subuh hingga gelap merayap
tak terbatas dalam aksara
aku sebutir harapan yang sedang melayang
adalah takdirNya yang harus terus ku tatap
meski kadang terbata
aku dengan segelintir sunyi mencari arti
berusaha menentramkan kegelisahan
aku membangun keberanian untuk bersahabat
do'o-do'a ini barangkali saksinya
atas sungguh ketidaksempurnaan jiwa
makanya aku terus menjari
menelusuri selaput serpihan permohonan
ampunan, kasih sayang, pemeliharaan,
bagiMu Rabb yang aku puja
aku tak berani banyak berharap
aku ingin belajar menjadi hamba yang tulus bersyukur
aku ingin belajar mengabdi dengan ikhlas
aku ingin belajar menjalani hari-hari penantian dengan sabar
aku ingin belajar berdo'a dengan secarik data
aku ingin menjadi bagian dari yang Engkau sayangi
aku ingin tetap dan tetap berdo'a
hingga suara ini beruban dan bahkan berubah menjadi segores kata saja
baris do'aku akan terus merayap di selubung waktu
Wednesday, 21 October 2009
Istana Al-Qur'an dalam Khayalku
Nafas kakiku lirih mengetuk bingkai alam yang spektakuler. Eulogi dari hati untuk si kerdil yang belum jua paham adanya. Kisah Abu Bakr As Siddiq yang patriotik, bukan saja dalam menumpas pemberonta dan membebaskan Iraq serta Syam, tapi lebih dari itu. Zaid bin Tsabit menjadi icon paling kudu dibanggakan sampai peradaban kapanpun. Aku sendiri mengawinkan keinginan hati dengan lembaran dunia yang luasnya terbentang. Kemanapun berlari kesitulah batas berhenti. Ada intuisi yang kian kali membolak-balik di ujung hati. Sebaiknya kuhindari saja para filosof yunani, karena itu bagian dari belajar. Hari esok sebentar lagi, 1000 abad lamanya juga sebentar adanya. Peradaban islam pernah berjaya, namun tak lama. Jadi hari ini, akan aku ambil alih pekerjaan besar sosok yang aku idolakan itu kalau tak mau disebut meneruskan. Istana Al-Qur'an dalam khayalku, Allah bimbing mahklukMu yang satu ini. Bentangkan selebar-lebarnya pintu hidayah dan hikmahMu. Amin.........
Thursday, 8 October 2009
Berikan Kebaikan kepadaku
Menghapus coretan-coretan hati, belajar menyendiri untuk menatap haluan-haluan tatanan harga diri. Seantero jagad serasa berkaca sambil selalu waspada.
Langit dan bumi adalah maha karya yang telah di janjikan. bagiku syukur adalah bersimpuh dan berlepas raga dari maksiat. Kumohon petunjuk-Mu agar aku selalu bersyukur pada-Mu, Berilah aku kebajikan beramal yang Engkau Ridloi. Berikan Kebaikan padaku, serta anak cucuku. Mencintai-Mu bagiku penuh perjuangan, setetes kalungan hati yang tersetir diatas derap langkah kemauan. Karena siapapun hamba-Mu yang telah Engkau beri petunjuk, maka Engkau akan menambahkan petunjuk itu sebagai karuniaMu.
Langit dan bumi adalah maha karya yang telah di janjikan. bagiku syukur adalah bersimpuh dan berlepas raga dari maksiat. Kumohon petunjuk-Mu agar aku selalu bersyukur pada-Mu, Berilah aku kebajikan beramal yang Engkau Ridloi. Berikan Kebaikan padaku, serta anak cucuku. Mencintai-Mu bagiku penuh perjuangan, setetes kalungan hati yang tersetir diatas derap langkah kemauan. Karena siapapun hamba-Mu yang telah Engkau beri petunjuk, maka Engkau akan menambahkan petunjuk itu sebagai karuniaMu.
Wednesday, 2 September 2009
Sehari Tanpa Dosa
Terik mentari siang itu menyejukkan dan udara paginya menghangatkan.
Ataukah memang seperti itulah rasanya, ketika tak lagi ada dosa. Semuanya memiliki andil yang menyenangkan. Hari kita 24 jam saja, aku mengutip detik demi detiknya, menyalakan dengan sangat perlahan hingga haripun mulai bersinar. Kupinta hari ini damai, hari ini mampu kurengkuh 24 jam penuh bagai emas 24 karat. tak terhitung setetespun dosa, tak ada..tak terjadi.. tak kuperbuat..
tersenyum, biarlah tetap kuwariskan....
Lantaran tak punya cukup harta, maka ku pinang beberapa helai sastra saja. Pekerjaan terbesar adalah berpikir keras untuk memberikan warisan kebaikan kepada generasi yang akan Allah hadirkan kelak. Semoga ada satu, dua atau lebih generasi yang mampu sehari saja tanpa dosa, karena ku rasa, aku tertatih mengejarnya hari ini......Dengan IzinMu ya Allah Hamba akan berjoeang!!!
Ataukah memang seperti itulah rasanya, ketika tak lagi ada dosa. Semuanya memiliki andil yang menyenangkan. Hari kita 24 jam saja, aku mengutip detik demi detiknya, menyalakan dengan sangat perlahan hingga haripun mulai bersinar. Kupinta hari ini damai, hari ini mampu kurengkuh 24 jam penuh bagai emas 24 karat. tak terhitung setetespun dosa, tak ada..tak terjadi.. tak kuperbuat..
tersenyum, biarlah tetap kuwariskan....
Lantaran tak punya cukup harta, maka ku pinang beberapa helai sastra saja. Pekerjaan terbesar adalah berpikir keras untuk memberikan warisan kebaikan kepada generasi yang akan Allah hadirkan kelak. Semoga ada satu, dua atau lebih generasi yang mampu sehari saja tanpa dosa, karena ku rasa, aku tertatih mengejarnya hari ini......Dengan IzinMu ya Allah Hamba akan berjoeang!!!
Wednesday, 22 July 2009
Maha Karya
setetes kemudian berdesakan di pintu kemasyhuran. denting-berdenting saling melengkapi, seakan bundaran telah terpenuhi. sanggup dan berusaha menyanggupi bahkan tergegas untuk pasti dan pasti. Borobudur biarlah mengabadi,atau keajaiban-keajaiban dunia lain yang kukuh mencirikan kegigihan arsiteknya. Bagiku keabadian adalah maha karya, untuknya aku ber hasrat. tidak banyak, tapi dalam maknanya. Aku akan merengkuhnya walau tak ada halangan sekalipun. Setidaknya angka tiga lebih dari cukup bahwa maha karyaku segera tunai. Allah izinkanlah..................hamba mohon...dari dan untuk si kecil ini.
Tuesday, 23 June 2009
Sastra Sebagai Panglima
Resah.........semakin menjadi, sendiri dan semakin menyendiri.
berteriak meneriakan asmara hati. pecah dan hancur berbelah-belah, serentetat alur terukir di lorong-lorong
agregat yang retak menyambar butiran embun. semakin tidak bersuaka pada langit dan geluduk yang berselang.
Bukan karena lantaran petaka, bukan juga berbeda angkara. Semaunya saja angin siang manja, menukik di bukit barisan.
relaksasi yang gepeng, sangat selaras dengan benjolan ekolabel. Sakit, seuntai saja menular merambah resap di haluan kota.
Tepi di tengah jalan, gandrung dengan jaman.
butir-butir pusaka bergemerincing memuja dengan belaka dan apa adanya.
menangis saja di antar kata, semakin larut jua tangan lapuk. hati resah menambat luka, adakah sebenarnya yang percaya.
bukan ragu sementara, ragu ini berada bertahan lama.
Syurga Allah silaukan saja, berarti ada tangga bersedekah kesana.
Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn......................benarkah aku berteriak,
Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..................resah ini bergelora,
air..air........air.......dipelupuk mata...berguguran, butiranya rendah hati dan mengelupas dalam,
aku bersimpuh dengan kata-kata, karenanya sastra sebagai panglima.
berteriak meneriakan asmara hati. pecah dan hancur berbelah-belah, serentetat alur terukir di lorong-lorong
agregat yang retak menyambar butiran embun. semakin tidak bersuaka pada langit dan geluduk yang berselang.
Bukan karena lantaran petaka, bukan juga berbeda angkara. Semaunya saja angin siang manja, menukik di bukit barisan.
relaksasi yang gepeng, sangat selaras dengan benjolan ekolabel. Sakit, seuntai saja menular merambah resap di haluan kota.
Tepi di tengah jalan, gandrung dengan jaman.
butir-butir pusaka bergemerincing memuja dengan belaka dan apa adanya.
menangis saja di antar kata, semakin larut jua tangan lapuk. hati resah menambat luka, adakah sebenarnya yang percaya.
bukan ragu sementara, ragu ini berada bertahan lama.
Syurga Allah silaukan saja, berarti ada tangga bersedekah kesana.
Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn......................benarkah aku berteriak,
Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..................resah ini bergelora,
air..air........air.......dipelupuk mata...berguguran, butiranya rendah hati dan mengelupas dalam,
aku bersimpuh dengan kata-kata, karenanya sastra sebagai panglima.
Monday, 1 June 2009
Ibuku.............Kurindu padamu,
Entah pada hari yang keberapa aku kan pulang dan bersandar dipangkuanmu. Dulu aku kecil sangat manja, bahkan lebih dari manja. Rasannya baru kemarin aku bercanda, rewel, dan membuatmu sangat kesal meski kau berusaha menutupinya. Aku tau dari raut wajahmu yang menahan marah demi si buah hati ini. Sejak SD aku sudah tak bersamamu, kalau sempat paling pada bulan-bulan tertentu kita bersua. Begitu juga saat SMP, aku jauh darimu. Waktu SMA apalagi, engkau dimana dan aku dimana. Saat aku belajar di IPB, itu adalah jarak paling jauh selama aku berpisah denganmu. Allah kapan aku aku bisa bersua lagi dengan ibu untuk sedikit lebih lama, ya sedikit lebih lama......
Dulu aku masih terlalu kecil dan aku sama sekali belum berguna baginya, pun sekarang. Kini....aku juga masih jauh darinya, aku takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Allah aku rindu ibu..aku kangen ibu..aku ingin sekali dipeluk oleh kehangatan cintanya. Allah aku takut kehilangan ibu sebagai mana sebenarnya aku juga takut meninggalkan ibu. Selama ini karena menuntut ilmu aku dan ibu rela tak bersua walau itu berat rasannya. Karena ada harapan besar darinya dan dariku makanya dengan berat hati kami pun ber-azam. Allah ijinkan aku membahagiakan ibu, ijinkan aku berbhakti kepada ibu. Allah setiap air mata ini adalah rasa rinduku pada bunda tercinta tiada lain adalah ibu. Oh ibu sedang apa engkau disana,aku anakmu yang malang.........malang bukan kepalang karena tak juga bersua....... Aku ingin kita semua kembali ke Surga. Ibu bahkan aku tak sampai hati merasakan betul betapa perih rasa hatimu memikirkanku walau kadang aku tak menyadari. Ibu ...rasanya baru kemarin, ya benar-benar baru kemarin aku digendong, di manja, di bangunkan kala bobok dan yang paling memalukan adalah di ganti celananya karena ngompol. ibu........aku menangis untukmu.....aku bahagia lahir dari rahimmu,ibu ijinkan aku berbhakti padamu. Ibu Syurgaku ada di bawah telapak kakimu, tapi bukan semata karena itu aku mencintaimu tapi karena kesungguhan dan ketulusanmu mencintai putramu.
Ya Allah, jikalau ada kebaikanku barang sedikit kumohon ijinkan aku memberikan pahalannya untuk ibu, untuk kesembuhan ibu, untuk hari-harinya yang kian senja bersama kilau malam dan siang yang selalu bersaudara.
Dulu aku masih terlalu kecil dan aku sama sekali belum berguna baginya, pun sekarang. Kini....aku juga masih jauh darinya, aku takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Allah aku rindu ibu..aku kangen ibu..aku ingin sekali dipeluk oleh kehangatan cintanya. Allah aku takut kehilangan ibu sebagai mana sebenarnya aku juga takut meninggalkan ibu. Selama ini karena menuntut ilmu aku dan ibu rela tak bersua walau itu berat rasannya. Karena ada harapan besar darinya dan dariku makanya dengan berat hati kami pun ber-azam. Allah ijinkan aku membahagiakan ibu, ijinkan aku berbhakti kepada ibu. Allah setiap air mata ini adalah rasa rinduku pada bunda tercinta tiada lain adalah ibu. Oh ibu sedang apa engkau disana,aku anakmu yang malang.........malang bukan kepalang karena tak juga bersua....... Aku ingin kita semua kembali ke Surga. Ibu bahkan aku tak sampai hati merasakan betul betapa perih rasa hatimu memikirkanku walau kadang aku tak menyadari. Ibu ...rasanya baru kemarin, ya benar-benar baru kemarin aku digendong, di manja, di bangunkan kala bobok dan yang paling memalukan adalah di ganti celananya karena ngompol. ibu........aku menangis untukmu.....aku bahagia lahir dari rahimmu,ibu ijinkan aku berbhakti padamu. Ibu Syurgaku ada di bawah telapak kakimu, tapi bukan semata karena itu aku mencintaimu tapi karena kesungguhan dan ketulusanmu mencintai putramu.
Ya Allah, jikalau ada kebaikanku barang sedikit kumohon ijinkan aku memberikan pahalannya untuk ibu, untuk kesembuhan ibu, untuk hari-harinya yang kian senja bersama kilau malam dan siang yang selalu bersaudara.
Monday, 6 April 2009
Kupinjam Untai Hatimu
ada malam yang selalu gelap, memberi kesan klasik begitu mengintipnya. seakan ada mimpi yang coba mewarnai. perisai hati begitu tebal hingga membuat sentuhan alam terlalu dangkal. bukan ibukota namanya kalau tanpa realita. seakan tak jua ada cahaya yang merambat karena semua tepat adanya. Bidadari itu jelita dengan auranya, menanti kusam dan lapuknya si jiwa. di balik kilau malam, ada air mata yang sayang di telantarkan. sedih menjadi penawar dan bisikan sedunya menggemparkan. Bidadari, karena setia kau begitu rela menanti. Kupinjam untai hatimu untuk semangat hari ini, kau peluk mesra kesunyian malam demi sebuah pengabdian. Kau mencoba ceria, tertawa, dan bahagia walau itu tak sederhana.Bersama serpihan angin ku titipkan rindu untuk kau simpan, dan kuharap ada bidadari kecil yang kan menjagamu kelak. Menjadilah bidadari-bidadari Surga dengan ilmu dan amal..................
Monday, 30 March 2009
Hidayah itu Mahal.....
Tak sedikit butiran puisi telah mengisi hari-hari.hangatnya semangat senantiasa mendampingi sosok yang paling ingin tau diri. Semboyan hidup terus mengilhami dan lambat laun mulai menyentuh sisi hati. sejaman sudah cakrawala berkaca-kaca sekedar menanti datangnya rupa-rupa bahagia. bahagia yang tidak ada lebihnya lagi. Melalui rimbun di pagi hari, aku tapaki malam demi malam untuk sebuah esok yang cerah tidak saja karena sinar surya tapi juga karena cahaya amal. Semoga kian membalut bongkahan-bongkahan dosa yang kian membengkak oleh kepingan-kepingan tak bersahaja. Iman ini tidak jarang luntur, mungkin karena setan amat berazam...ya berazam untuk mencari sebanyaknya kawan untuk sama-sama menderita di neraka. Setan cukup sadar diri bahwa ia memang tak ada lagi kesempatan ke Surga. Apakah jiwa ini sudah cukup sadar bahwa setan tak pernah ridlo menatap ku di Surga. Itulah adanya ku sadar pula bahwa HidayahNya itu mahal. Teramat mahal untuk di sepelakan yang kadang di cukupkan dengan sholat lima waktu saja. aku malu..........malu.......karena untuk menjerat kita bahkan setan rela untuk tidak tidur selamanya.....Allah Izinkan Hamba berselimut Surga kelak.......amin,
Friday, 20 March 2009
Jika Boleh Kupinta
Terlalu angkuhnya aku telah membuat hidup seakan tak bernada. Rintih dan sayatan kedukaan selamannya menyisa dalam diri ini. Pasrah dan hanya berharap iba penuh nestapa itulah beta. Jika boleh kupinta darimu sahabat maka ijinkanlah aku mati dengan sholat sebagai hadiah darimu. Adakah orang yang ridlo menyolati mayatku yang bertaburan dosa ini. Aku tak pasrah begitu saja, yah aku punya mimpi saat kelak tubuh gontai ini telah menjadi jasad tak bernyawa, setidaknya ada lebih dari 1 juta insan yang ridlo menyolatiku.....ya menyolatiku, karena tak ada lagi kekuatanku untuk mengiba padaNya. Sisa amalkulah yang semoga menggendongku, mengantarkan kaki dan tangan untuk bersaksi di persaksian tanpa dusta. Sholatmu adalah mimpiku di detik-detik kalkulasi amalku yang rasanya tak berani kuhitung ulang demi sebuah Surga yang terlalu berharga yang ku tau amalku tak sehebat para nabiku. Kesadaranku cukup menguat setapak tapi pasti amal kecilku yang semoga melahirkan maha karya untuk sebuah sholat atas kepergianku meninggalkan penjara nan fana ini. Allah ijinkan hamba berkarya...........
Wednesday, 4 March 2009
Merapat dalam sunyi
tertuang begitu jernih nilai-nilai moral itu. bahkan telah memberi makna dalam sejarah kematian hatiku, ketakutan yang yang tak pantas telah begitu mengiba didada. sesak dan teramat sesak lantaran dosa yang tak terelakan. Aku bukanlah seorang mujahid perang di palestina yang sungguh Surga seakan dihadiahkan. Aku..............sekeping hati yang perlahan berlari mencari kebenaran hakiki.Langit impianku jauh tinggi mengangkasa membawa sejumlah logam keberanian. Ingin ku rajut patahan-patahan cintaku dalam damai sanubari bersama hari yang setia menemani. Aku berbaris rapi merapat dalam sunyi zaman ini untuk sebuah negeri yang mengabadi.
Saturday, 21 February 2009
Saat Batu nisanku Miring
Kukecup dalam-dalam butiran waktu yang berselang, Sembari menanti jarak antar pagi yang terus berjalan. Termaknai sudah oleh langkah kaki yang tak henti melintasi jemari hari. Barangkali itulah tanda-tanda saat akan mati.... lirih...tapi pasti. Gerah kurasakan bibir penuh duri ini walau telah kupatahkan dengan baja tak bertali. Mungkin esok atau lusa aku tak lagi berkawan tentunya bukan karena terlalu menawan atau kian tampan. Sudah semestinya tanah itu menjadi penginapan terakhir kala hujan tak lagi menunggu payung, kala terik tak lagi menunggu pohon nan rindang. Kepayahan ini terjawab sudah oleh titik amal yang melegenda dan terukir di koridor jagad raya. Tapi ada satu hal yang kuharap tak kau lupakan, kumohon duhai kawan...karena bahkan aku tak sanggup berdiri lagi, sekedar menegakan nisan miringku sendiri atau beberapa helai rumput yang mengusik diatas pusaraku. Kalau kau kira pernah ada kebaikanku padamu walau itu tak bernilai, sudilah sejenak engkau atau anak cucu engkau atau karib kerabat engkau berbelas kasih menegakkannya lagi untukku untuk makhluk yang tak luput dari kerak dosa yang semoga itu menjadi simbol bahwa aku masih sanggup berdiri gagah mempertanggungjawabkan perbuatanku. Biar lelah ini sedikit terwarnai, biar sunyi ini kian terjaga oleh hari, karena aku terlalu gontai untuk bertahan, atau setidaknya lumut dosaku tak juga berjejal di pembaringan terakhirku. Aku bukan siap-siapa untuk kemewahan dan kekuasaan, apa lagi ketenaran. Aku takut tak ada Ridho untuku oleh karenannya kupilih air mata walau kutahu takan cukup sebab aku terlampau sesak oleh dosa-dosa............
Wednesday, 28 January 2009
agama , ajari aku
sudah berjarak aku berjalan, melangkah ditepi waktu. Tak kurang kurang kutemui alamat agama ini. Indah dan sempurna, kuakui penataan etika hidupnya bagus meskipun aku harus puas menatap pencurian, kriminalitas, korupsi,suap, dan lain lagi banyaknya yang dilakukan oleh penganutnya. Aku bangga dengan konsep perekonomiannya yang mengedepankan sedekah dan zakat, meskipun sedang terjadi nyata dihadapanku ada carut marut kemisiinan, kelaparan, penimbunan harta, dan penindasan oleh penganutnya. Ketika mengutip ayat-ayatnya keyakinanku kian mengkristal, tak ada miras, tak ada zina luar biasa.Meski kenyataan hari bertolak belakang, seolah tak miras,tak judi, dan tak pacaran itu tabu.apa aku yang terlalu lugu menafsirkan, hingga tak ada kutemukan indahnya ayatnya merajut dalam realisasi kehidupan negeriku.Wajar saja kalo orang 'barat' mencibirku, ih orang 'timur' yang sok suci. aku malu tapi ini negeriku, ini saudara dan saudariku. mohon ijinkan aku untuk paham untuk mengerti untuk memaknai dan untuk menanamkan kebanggaan tak terhenti.
Wednesday, 21 January 2009
Hati Nurani
Sejak kecil perasaan itu selalu mengawali, meraba dinding biru kehidupan. Seakan kesuciannya tak terkalahkan. Hati nurani tidak jarang bahkan sering menjadi ujung sebuah ke egoisan. Tidak salah sebenarnya, namun kepatutanlah yang harusnya diutamakan. Sudah merasa puas setelah semua di kembalikan kepada “hati nurani”.Sekedar ingin menyapa seraya mengingatkan duhai yang punya dan bangga akan hati nuraninnya. Bersihkah hati itu dari hasad, hasud dan dengki. Atau bersihkah hati itu dari tak malu duduk bersama si miskin di depan rekan-rekan kita. Keinginan untuk memegang kebenaran atas nama hati nurani, tidak mustahil menjadi bumerang karena kebodohan diri. Bisa jadi bukan hati nurani yang jadi sandaran tapi egois dan merasa paling sucilah yang mengantarkannnya. Terlalu dini menganggap diri suci dengan kejernihan hati nurani. Akuilah ilmunya orang-orang yang berilmu dan bergurulah. Itulah panggilan hati nurani yang sesungguhnya, mengarahkan pada sebuah kebaikan dunia dan akhirat, bukan pada kekuasaan, ketenaran, dan kepopuleran pemikiran.
Friday, 16 January 2009
"mungkin"
"mungkin", sebuah kata yang kebanyakan orang pinjam untuk menyatakan sesuatu akan tetapi ada rasa khawatir meyakininnya. bisa jadi hal itulah yang menunjukan betapa manusia memiliki keterbatasan."mungkin" juga mewakili sebuah keinginan untuk membantu sementara kemampuannya belum memadahi atau apalah bahasannya, mungkin. bergesernya waktu seolah menggeser pula dinding permasalahan dari yang awalnya amat runcing kemudian berakhir tak ber alas. Dunia sebagai wajah, mengatasnamakan kebenaran tidak jarang menjadi buah celotehan. Tempat yang fana, penjara.......bukan tidak beralasan melainkan ada santunan yang musti ditunaikan.
Subscribe to:
Comments (Atom)