Resah.........semakin menjadi, sendiri dan semakin menyendiri.
berteriak meneriakan asmara hati. pecah dan hancur berbelah-belah, serentetat alur terukir di lorong-lorong
agregat yang retak menyambar butiran embun. semakin tidak bersuaka pada langit dan geluduk yang berselang.
Bukan karena lantaran petaka, bukan juga berbeda angkara. Semaunya saja angin siang manja, menukik di bukit barisan.
relaksasi yang gepeng, sangat selaras dengan benjolan ekolabel. Sakit, seuntai saja menular merambah resap di haluan kota.
Tepi di tengah jalan, gandrung dengan jaman.
butir-butir pusaka bergemerincing memuja dengan belaka dan apa adanya.
menangis saja di antar kata, semakin larut jua tangan lapuk. hati resah menambat luka, adakah sebenarnya yang percaya.
bukan ragu sementara, ragu ini berada bertahan lama.
Syurga Allah silaukan saja, berarti ada tangga bersedekah kesana.
Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn......................benarkah aku berteriak,
Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..................resah ini bergelora,
air..air........air.......dipelupuk mata...berguguran, butiranya rendah hati dan mengelupas dalam,
aku bersimpuh dengan kata-kata, karenanya sastra sebagai panglima.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment