Tuesday, 23 June 2009

Sastra Sebagai Panglima

Resah.........semakin menjadi, sendiri dan semakin menyendiri.
berteriak meneriakan asmara hati. pecah dan hancur berbelah-belah, serentetat alur terukir di lorong-lorong
agregat yang retak menyambar butiran embun. semakin tidak bersuaka pada langit dan geluduk yang berselang.
Bukan karena lantaran petaka, bukan juga berbeda angkara. Semaunya saja angin siang manja, menukik di bukit barisan.
relaksasi yang gepeng, sangat selaras dengan benjolan ekolabel. Sakit, seuntai saja menular merambah resap di haluan kota.
Tepi di tengah jalan, gandrung dengan jaman.
butir-butir pusaka bergemerincing memuja dengan belaka dan apa adanya.
menangis saja di antar kata, semakin larut jua tangan lapuk. hati resah menambat luka, adakah sebenarnya yang percaya.
bukan ragu sementara, ragu ini berada bertahan lama.
Syurga Allah silaukan saja, berarti ada tangga bersedekah kesana.
Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn......................benarkah aku berteriak,
Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..................resah ini bergelora,
air..air........air.......dipelupuk mata...berguguran, butiranya rendah hati dan mengelupas dalam,
aku bersimpuh dengan kata-kata, karenanya sastra sebagai panglima.

Monday, 1 June 2009

Ibuku.............Kurindu padamu,

Entah pada hari yang keberapa aku kan pulang dan bersandar dipangkuanmu. Dulu aku kecil sangat manja, bahkan lebih dari manja. Rasannya baru kemarin aku bercanda, rewel, dan membuatmu sangat kesal meski kau berusaha menutupinya. Aku tau dari raut wajahmu yang menahan marah demi si buah hati ini. Sejak SD aku sudah tak bersamamu, kalau sempat paling pada bulan-bulan tertentu kita bersua. Begitu juga saat SMP, aku jauh darimu. Waktu SMA apalagi, engkau dimana dan aku dimana. Saat aku belajar di IPB, itu adalah jarak paling jauh selama aku berpisah denganmu. Allah kapan aku aku bisa bersua lagi dengan ibu untuk sedikit lebih lama, ya sedikit lebih lama......
Dulu aku masih terlalu kecil dan aku sama sekali belum berguna baginya, pun sekarang. Kini....aku juga masih jauh darinya, aku takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Allah aku rindu ibu..aku kangen ibu..aku ingin sekali dipeluk oleh kehangatan cintanya. Allah aku takut kehilangan ibu sebagai mana sebenarnya aku juga takut meninggalkan ibu. Selama ini karena menuntut ilmu aku dan ibu rela tak bersua walau itu berat rasannya. Karena ada harapan besar darinya dan dariku makanya dengan berat hati kami pun ber-azam. Allah ijinkan aku membahagiakan ibu, ijinkan aku berbhakti kepada ibu. Allah setiap air mata ini adalah rasa rinduku pada bunda tercinta tiada lain adalah ibu. Oh ibu sedang apa engkau disana,aku anakmu yang malang.........malang bukan kepalang karena tak juga bersua....... Aku ingin kita semua kembali ke Surga. Ibu bahkan aku tak sampai hati merasakan betul betapa perih rasa hatimu memikirkanku walau kadang aku tak menyadari. Ibu ...rasanya baru kemarin, ya benar-benar baru kemarin aku digendong, di manja, di bangunkan kala bobok dan yang paling memalukan adalah di ganti celananya karena ngompol. ibu........aku menangis untukmu.....aku bahagia lahir dari rahimmu,ibu ijinkan aku berbhakti padamu. Ibu Syurgaku ada di bawah telapak kakimu, tapi bukan semata karena itu aku mencintaimu tapi karena kesungguhan dan ketulusanmu mencintai putramu.
Ya Allah, jikalau ada kebaikanku barang sedikit kumohon ijinkan aku memberikan pahalannya untuk ibu, untuk kesembuhan ibu, untuk hari-harinya yang kian senja bersama kilau malam dan siang yang selalu bersaudara.