Wednesday, 21 January 2009
Hati Nurani
Sejak kecil perasaan itu selalu mengawali, meraba dinding biru kehidupan. Seakan kesuciannya tak terkalahkan. Hati nurani tidak jarang bahkan sering menjadi ujung sebuah ke egoisan. Tidak salah sebenarnya, namun kepatutanlah yang harusnya diutamakan. Sudah merasa puas setelah semua di kembalikan kepada “hati nurani”.Sekedar ingin menyapa seraya mengingatkan duhai yang punya dan bangga akan hati nuraninnya. Bersihkah hati itu dari hasad, hasud dan dengki. Atau bersihkah hati itu dari tak malu duduk bersama si miskin di depan rekan-rekan kita. Keinginan untuk memegang kebenaran atas nama hati nurani, tidak mustahil menjadi bumerang karena kebodohan diri. Bisa jadi bukan hati nurani yang jadi sandaran tapi egois dan merasa paling sucilah yang mengantarkannnya. Terlalu dini menganggap diri suci dengan kejernihan hati nurani. Akuilah ilmunya orang-orang yang berilmu dan bergurulah. Itulah panggilan hati nurani yang sesungguhnya, mengarahkan pada sebuah kebaikan dunia dan akhirat, bukan pada kekuasaan, ketenaran, dan kepopuleran pemikiran.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment