berupa lintasan kata, itu sudah menjadi kebiasaan.
seakan memang detik untuk bersapa senja kian menjadi nyata.
atau mungkin ini menjadi sebuah cuplikan curahan hati, entah saja.
berbinar semua resapan.
garis-garis itu kini semakin berani, setidaknya untuk satu dua mimpi.
sedikit terkelupas dan kemudian merapat lagi, elok sekali.
senin dan selasa menjadi bilangan sejenak hamparan hari.
sejumlah kalimat merayap melintasi selubung bola-bola salju
gemerlap esok telah begitu mengerak dalam rongga semangatku
namun, kegetiran berprasangka seakan menghujani dengan beribu kekhawatiran
demikian nyatakah kelemahan ini, atau sebenarnya ada ledakan dahsyat yang sedang menggelembung.
hembusan nafas yang kini ke seribu kali, juga telah membawa jiwa ini berlari.
aku bukan pelari tercepat, tapi aku akan menciptakan pelari tercepat.
khayalku untuk esok dan judul-judul yang telah siap aku produksi untuk esok.
Sehingga judulnya esok pasti akan segera aku beranikan diri.
Thursday, 31 December 2009
Tuesday, 1 December 2009
Kuingin Privat dari-Mu
Tuhan, aku menangis lagi. benar saja aku menangis
aku sedang mengais lilitan air mata ini, tuhan aku sembari berlari di penghujung kanal negeri ini. mengadu, iya benar adanya. Kuadukan semua kegundahan ini
beras itu belum pergi, bumbu dan santan masih menyelimuti.
tuhan aku bagai pelabuhan tak bertepi.
lantaran hari semangat berbakti, sedih dan kalung hatiku ini berani berluka.
Engkau tau yang terbaik, Engkau memberi dan terus memberi.
aku meminta dan terus meminta.
Tuhan bulan purnamapun enggan bersapa, tuhan aku bersenandung dengan dosa...
kuingin privat dari Mu, kiranya para hamba yang sholeh bisa,
aku yang biasa ini, kembali berusaha,
tuhan, dunia ini membimbingku ke neraka, ku harap privat dariMu yang teramat kuat.
Tuhan rasa sayang dan cinta ini kuharap terlukis indah di padang manapun berkisar.
lantaran semua yang disampingku saat ini, aku mengenal Mu, aku mulai benar-benar mencintai MU.
Tuhan...ku.........ya Allah....ampuni kelewatan kata hati ini,
Duhai Allah mohon ijinkan hamba
aku sedang mengais lilitan air mata ini, tuhan aku sembari berlari di penghujung kanal negeri ini. mengadu, iya benar adanya. Kuadukan semua kegundahan ini
beras itu belum pergi, bumbu dan santan masih menyelimuti.
tuhan aku bagai pelabuhan tak bertepi.
lantaran hari semangat berbakti, sedih dan kalung hatiku ini berani berluka.
Engkau tau yang terbaik, Engkau memberi dan terus memberi.
aku meminta dan terus meminta.
Tuhan bulan purnamapun enggan bersapa, tuhan aku bersenandung dengan dosa...
kuingin privat dari Mu, kiranya para hamba yang sholeh bisa,
aku yang biasa ini, kembali berusaha,
tuhan, dunia ini membimbingku ke neraka, ku harap privat dariMu yang teramat kuat.
Tuhan rasa sayang dan cinta ini kuharap terlukis indah di padang manapun berkisar.
lantaran semua yang disampingku saat ini, aku mengenal Mu, aku mulai benar-benar mencintai MU.
Tuhan...ku.........ya Allah....ampuni kelewatan kata hati ini,
Duhai Allah mohon ijinkan hamba
Wednesday, 18 November 2009
Serpihan Permohonan
Sejenak berdekap dengan sunyi,
hingga tak ada lagi yang mengusik
aku kembali mengadu
aku kembali tak hendak berputus duka
karena memang tak sempurna
berlari dan terus berlari dengan sebutir do'a
dari tabuh subuh hingga gelap merayap
tak terbatas dalam aksara
aku sebutir harapan yang sedang melayang
adalah takdirNya yang harus terus ku tatap
meski kadang terbata
aku dengan segelintir sunyi mencari arti
berusaha menentramkan kegelisahan
aku membangun keberanian untuk bersahabat
do'o-do'a ini barangkali saksinya
atas sungguh ketidaksempurnaan jiwa
makanya aku terus menjari
menelusuri selaput serpihan permohonan
ampunan, kasih sayang, pemeliharaan,
bagiMu Rabb yang aku puja
aku tak berani banyak berharap
aku ingin belajar menjadi hamba yang tulus bersyukur
aku ingin belajar mengabdi dengan ikhlas
aku ingin belajar menjalani hari-hari penantian dengan sabar
aku ingin belajar berdo'a dengan secarik data
aku ingin menjadi bagian dari yang Engkau sayangi
aku ingin tetap dan tetap berdo'a
hingga suara ini beruban dan bahkan berubah menjadi segores kata saja
baris do'aku akan terus merayap di selubung waktu
hingga tak ada lagi yang mengusik
aku kembali mengadu
aku kembali tak hendak berputus duka
karena memang tak sempurna
berlari dan terus berlari dengan sebutir do'a
dari tabuh subuh hingga gelap merayap
tak terbatas dalam aksara
aku sebutir harapan yang sedang melayang
adalah takdirNya yang harus terus ku tatap
meski kadang terbata
aku dengan segelintir sunyi mencari arti
berusaha menentramkan kegelisahan
aku membangun keberanian untuk bersahabat
do'o-do'a ini barangkali saksinya
atas sungguh ketidaksempurnaan jiwa
makanya aku terus menjari
menelusuri selaput serpihan permohonan
ampunan, kasih sayang, pemeliharaan,
bagiMu Rabb yang aku puja
aku tak berani banyak berharap
aku ingin belajar menjadi hamba yang tulus bersyukur
aku ingin belajar mengabdi dengan ikhlas
aku ingin belajar menjalani hari-hari penantian dengan sabar
aku ingin belajar berdo'a dengan secarik data
aku ingin menjadi bagian dari yang Engkau sayangi
aku ingin tetap dan tetap berdo'a
hingga suara ini beruban dan bahkan berubah menjadi segores kata saja
baris do'aku akan terus merayap di selubung waktu
Wednesday, 21 October 2009
Istana Al-Qur'an dalam Khayalku
Nafas kakiku lirih mengetuk bingkai alam yang spektakuler. Eulogi dari hati untuk si kerdil yang belum jua paham adanya. Kisah Abu Bakr As Siddiq yang patriotik, bukan saja dalam menumpas pemberonta dan membebaskan Iraq serta Syam, tapi lebih dari itu. Zaid bin Tsabit menjadi icon paling kudu dibanggakan sampai peradaban kapanpun. Aku sendiri mengawinkan keinginan hati dengan lembaran dunia yang luasnya terbentang. Kemanapun berlari kesitulah batas berhenti. Ada intuisi yang kian kali membolak-balik di ujung hati. Sebaiknya kuhindari saja para filosof yunani, karena itu bagian dari belajar. Hari esok sebentar lagi, 1000 abad lamanya juga sebentar adanya. Peradaban islam pernah berjaya, namun tak lama. Jadi hari ini, akan aku ambil alih pekerjaan besar sosok yang aku idolakan itu kalau tak mau disebut meneruskan. Istana Al-Qur'an dalam khayalku, Allah bimbing mahklukMu yang satu ini. Bentangkan selebar-lebarnya pintu hidayah dan hikmahMu. Amin.........
Thursday, 8 October 2009
Berikan Kebaikan kepadaku
Menghapus coretan-coretan hati, belajar menyendiri untuk menatap haluan-haluan tatanan harga diri. Seantero jagad serasa berkaca sambil selalu waspada.
Langit dan bumi adalah maha karya yang telah di janjikan. bagiku syukur adalah bersimpuh dan berlepas raga dari maksiat. Kumohon petunjuk-Mu agar aku selalu bersyukur pada-Mu, Berilah aku kebajikan beramal yang Engkau Ridloi. Berikan Kebaikan padaku, serta anak cucuku. Mencintai-Mu bagiku penuh perjuangan, setetes kalungan hati yang tersetir diatas derap langkah kemauan. Karena siapapun hamba-Mu yang telah Engkau beri petunjuk, maka Engkau akan menambahkan petunjuk itu sebagai karuniaMu.
Langit dan bumi adalah maha karya yang telah di janjikan. bagiku syukur adalah bersimpuh dan berlepas raga dari maksiat. Kumohon petunjuk-Mu agar aku selalu bersyukur pada-Mu, Berilah aku kebajikan beramal yang Engkau Ridloi. Berikan Kebaikan padaku, serta anak cucuku. Mencintai-Mu bagiku penuh perjuangan, setetes kalungan hati yang tersetir diatas derap langkah kemauan. Karena siapapun hamba-Mu yang telah Engkau beri petunjuk, maka Engkau akan menambahkan petunjuk itu sebagai karuniaMu.
Wednesday, 2 September 2009
Sehari Tanpa Dosa
Terik mentari siang itu menyejukkan dan udara paginya menghangatkan.
Ataukah memang seperti itulah rasanya, ketika tak lagi ada dosa. Semuanya memiliki andil yang menyenangkan. Hari kita 24 jam saja, aku mengutip detik demi detiknya, menyalakan dengan sangat perlahan hingga haripun mulai bersinar. Kupinta hari ini damai, hari ini mampu kurengkuh 24 jam penuh bagai emas 24 karat. tak terhitung setetespun dosa, tak ada..tak terjadi.. tak kuperbuat..
tersenyum, biarlah tetap kuwariskan....
Lantaran tak punya cukup harta, maka ku pinang beberapa helai sastra saja. Pekerjaan terbesar adalah berpikir keras untuk memberikan warisan kebaikan kepada generasi yang akan Allah hadirkan kelak. Semoga ada satu, dua atau lebih generasi yang mampu sehari saja tanpa dosa, karena ku rasa, aku tertatih mengejarnya hari ini......Dengan IzinMu ya Allah Hamba akan berjoeang!!!
Ataukah memang seperti itulah rasanya, ketika tak lagi ada dosa. Semuanya memiliki andil yang menyenangkan. Hari kita 24 jam saja, aku mengutip detik demi detiknya, menyalakan dengan sangat perlahan hingga haripun mulai bersinar. Kupinta hari ini damai, hari ini mampu kurengkuh 24 jam penuh bagai emas 24 karat. tak terhitung setetespun dosa, tak ada..tak terjadi.. tak kuperbuat..
tersenyum, biarlah tetap kuwariskan....
Lantaran tak punya cukup harta, maka ku pinang beberapa helai sastra saja. Pekerjaan terbesar adalah berpikir keras untuk memberikan warisan kebaikan kepada generasi yang akan Allah hadirkan kelak. Semoga ada satu, dua atau lebih generasi yang mampu sehari saja tanpa dosa, karena ku rasa, aku tertatih mengejarnya hari ini......Dengan IzinMu ya Allah Hamba akan berjoeang!!!
Wednesday, 22 July 2009
Maha Karya
setetes kemudian berdesakan di pintu kemasyhuran. denting-berdenting saling melengkapi, seakan bundaran telah terpenuhi. sanggup dan berusaha menyanggupi bahkan tergegas untuk pasti dan pasti. Borobudur biarlah mengabadi,atau keajaiban-keajaiban dunia lain yang kukuh mencirikan kegigihan arsiteknya. Bagiku keabadian adalah maha karya, untuknya aku ber hasrat. tidak banyak, tapi dalam maknanya. Aku akan merengkuhnya walau tak ada halangan sekalipun. Setidaknya angka tiga lebih dari cukup bahwa maha karyaku segera tunai. Allah izinkanlah..................hamba mohon...dari dan untuk si kecil ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)