Friday, 16 July 2010
Ruang Kebingungan
Bukan satu atau dua alasan terurai, semuanya menjelaskan. setiap silih bergantinya lembar, setiap itu pula ruang kebingungan mengudara. ada apa dengan tanya? tak bolehkah. agama bukan tekstual, tapi seluruh literaturnya hadir dalam teks-teks resmi. Ilmu ternyata telah pergi bagi pemiliknya, dan literatur itulah sarinya. Ruang ini sangat dalam, menusuk, dan kadang kutelan mentah-mentah. aku bukan kesadaran mutlak, aku bukan kepalang ajar. justru belajar aku sekarang untuk sedikit berhati jalan. Aku menyadur hari-hariku dengan pujian keberanian, dan sedikit kutukan kelewatan. Aku tetap santun mengelola kata. Hati ini, nurani katanya! sisanya suara hati kayaknya. Perpaduan peluit jaman yang menggetarkan, remuk meggerogot bola salju perjalanan. Tak paham biarlah saja. Aku tak payah menyemai ruang bingunku, aku tak akan lelah, dan aku tak akan ambil apa sajalah!!! aku berdiri bersama JanjiNYa...
Friday, 7 May 2010
Ayat-ayat sunyi
Rangkaian hidup membentang seperti permadani
bercorak, dan bergemericik kisahnya
semua dibaca, semua dilihat, dan semua didengar
cerah, indah, merekah,
namun semuanya melamun
terpasung dalam kesenyapan angka
ada malam yang terkadang hilang
sembari bertaubat, retakan itu menggerombol
malam yang lain gelap tak berupa
segaris doa menyesakan dada
menghantarkan satu senyum tak resmi
dan sekuncup air mata abadi
aku bertolak menuju depan pintu hati
melempar setali kata janji
mahkota usangpun akan kucari
ayat-ayat sunyi dimana kau berteduh
ajari aku merogoh jejak suci itu
tampaknya indah, indah sekali
dan kita menapaki dengan seenak hati
bercorak, dan bergemericik kisahnya
semua dibaca, semua dilihat, dan semua didengar
cerah, indah, merekah,
namun semuanya melamun
terpasung dalam kesenyapan angka
ada malam yang terkadang hilang
sembari bertaubat, retakan itu menggerombol
malam yang lain gelap tak berupa
segaris doa menyesakan dada
menghantarkan satu senyum tak resmi
dan sekuncup air mata abadi
aku bertolak menuju depan pintu hati
melempar setali kata janji
mahkota usangpun akan kucari
ayat-ayat sunyi dimana kau berteduh
ajari aku merogoh jejak suci itu
tampaknya indah, indah sekali
dan kita menapaki dengan seenak hati
Thursday, 25 February 2010
Kebutuhan yang Diwajibkan
Barisan yang satu, barisan yang dua, barisan yang tiga,baris berbaris menggaris lurus.
merumuskan satu jalur terencana. Kewajiban atas kebutuhan menjadi semacam cindera mata abadi. Semangkuk ilmu berlari mengantar hangat kata mati itu, harapan ini akan segera pudar, menumbuk sejumlah batu nisan. Pemberhentian akhir yang tak berpangkal, serabut keinginanku yang jatuh di tepian waktu, terendus oleh setan keparat. Tuhan pertemuan dengan-Mu, janji-Mu bagi manusia terkutuk dan tertaqwa, Tuhan gapai hamba dengan bimbingan, dengan petunjuk, dan dengan hidayah-Mu. Kebutuhanku yang diwajibkan,aneh bukan kepalang, malu bukan terancang. Bagaimana ini? aku masih seperti si bayi kecil, yang harus di wajibkan,padahal itu kebutuhanku sendiri.Tuhan ampuni hamba yang takabur oleh janji-janji. Sesungguhnya sholatku,ibadahku,hidupku, dan matiku, ingin ku serahkan pada-Mu. Perjumpaan dengan-Mu,ketakutan ini menjadi-jadi,bagaimana aku mempertanggungjawabkan nikmat-Mu,ya Allah............
merumuskan satu jalur terencana. Kewajiban atas kebutuhan menjadi semacam cindera mata abadi. Semangkuk ilmu berlari mengantar hangat kata mati itu, harapan ini akan segera pudar, menumbuk sejumlah batu nisan. Pemberhentian akhir yang tak berpangkal, serabut keinginanku yang jatuh di tepian waktu, terendus oleh setan keparat. Tuhan pertemuan dengan-Mu, janji-Mu bagi manusia terkutuk dan tertaqwa, Tuhan gapai hamba dengan bimbingan, dengan petunjuk, dan dengan hidayah-Mu. Kebutuhanku yang diwajibkan,aneh bukan kepalang, malu bukan terancang. Bagaimana ini? aku masih seperti si bayi kecil, yang harus di wajibkan,padahal itu kebutuhanku sendiri.Tuhan ampuni hamba yang takabur oleh janji-janji. Sesungguhnya sholatku,ibadahku,hidupku, dan matiku, ingin ku serahkan pada-Mu. Perjumpaan dengan-Mu,ketakutan ini menjadi-jadi,bagaimana aku mempertanggungjawabkan nikmat-Mu,ya Allah............
Thursday, 31 December 2009
Judulnya Esok
berupa lintasan kata, itu sudah menjadi kebiasaan.
seakan memang detik untuk bersapa senja kian menjadi nyata.
atau mungkin ini menjadi sebuah cuplikan curahan hati, entah saja.
berbinar semua resapan.
garis-garis itu kini semakin berani, setidaknya untuk satu dua mimpi.
sedikit terkelupas dan kemudian merapat lagi, elok sekali.
senin dan selasa menjadi bilangan sejenak hamparan hari.
sejumlah kalimat merayap melintasi selubung bola-bola salju
gemerlap esok telah begitu mengerak dalam rongga semangatku
namun, kegetiran berprasangka seakan menghujani dengan beribu kekhawatiran
demikian nyatakah kelemahan ini, atau sebenarnya ada ledakan dahsyat yang sedang menggelembung.
hembusan nafas yang kini ke seribu kali, juga telah membawa jiwa ini berlari.
aku bukan pelari tercepat, tapi aku akan menciptakan pelari tercepat.
khayalku untuk esok dan judul-judul yang telah siap aku produksi untuk esok.
Sehingga judulnya esok pasti akan segera aku beranikan diri.
seakan memang detik untuk bersapa senja kian menjadi nyata.
atau mungkin ini menjadi sebuah cuplikan curahan hati, entah saja.
berbinar semua resapan.
garis-garis itu kini semakin berani, setidaknya untuk satu dua mimpi.
sedikit terkelupas dan kemudian merapat lagi, elok sekali.
senin dan selasa menjadi bilangan sejenak hamparan hari.
sejumlah kalimat merayap melintasi selubung bola-bola salju
gemerlap esok telah begitu mengerak dalam rongga semangatku
namun, kegetiran berprasangka seakan menghujani dengan beribu kekhawatiran
demikian nyatakah kelemahan ini, atau sebenarnya ada ledakan dahsyat yang sedang menggelembung.
hembusan nafas yang kini ke seribu kali, juga telah membawa jiwa ini berlari.
aku bukan pelari tercepat, tapi aku akan menciptakan pelari tercepat.
khayalku untuk esok dan judul-judul yang telah siap aku produksi untuk esok.
Sehingga judulnya esok pasti akan segera aku beranikan diri.
Tuesday, 1 December 2009
Kuingin Privat dari-Mu
Tuhan, aku menangis lagi. benar saja aku menangis
aku sedang mengais lilitan air mata ini, tuhan aku sembari berlari di penghujung kanal negeri ini. mengadu, iya benar adanya. Kuadukan semua kegundahan ini
beras itu belum pergi, bumbu dan santan masih menyelimuti.
tuhan aku bagai pelabuhan tak bertepi.
lantaran hari semangat berbakti, sedih dan kalung hatiku ini berani berluka.
Engkau tau yang terbaik, Engkau memberi dan terus memberi.
aku meminta dan terus meminta.
Tuhan bulan purnamapun enggan bersapa, tuhan aku bersenandung dengan dosa...
kuingin privat dari Mu, kiranya para hamba yang sholeh bisa,
aku yang biasa ini, kembali berusaha,
tuhan, dunia ini membimbingku ke neraka, ku harap privat dariMu yang teramat kuat.
Tuhan rasa sayang dan cinta ini kuharap terlukis indah di padang manapun berkisar.
lantaran semua yang disampingku saat ini, aku mengenal Mu, aku mulai benar-benar mencintai MU.
Tuhan...ku.........ya Allah....ampuni kelewatan kata hati ini,
Duhai Allah mohon ijinkan hamba
aku sedang mengais lilitan air mata ini, tuhan aku sembari berlari di penghujung kanal negeri ini. mengadu, iya benar adanya. Kuadukan semua kegundahan ini
beras itu belum pergi, bumbu dan santan masih menyelimuti.
tuhan aku bagai pelabuhan tak bertepi.
lantaran hari semangat berbakti, sedih dan kalung hatiku ini berani berluka.
Engkau tau yang terbaik, Engkau memberi dan terus memberi.
aku meminta dan terus meminta.
Tuhan bulan purnamapun enggan bersapa, tuhan aku bersenandung dengan dosa...
kuingin privat dari Mu, kiranya para hamba yang sholeh bisa,
aku yang biasa ini, kembali berusaha,
tuhan, dunia ini membimbingku ke neraka, ku harap privat dariMu yang teramat kuat.
Tuhan rasa sayang dan cinta ini kuharap terlukis indah di padang manapun berkisar.
lantaran semua yang disampingku saat ini, aku mengenal Mu, aku mulai benar-benar mencintai MU.
Tuhan...ku.........ya Allah....ampuni kelewatan kata hati ini,
Duhai Allah mohon ijinkan hamba
Wednesday, 18 November 2009
Serpihan Permohonan
Sejenak berdekap dengan sunyi,
hingga tak ada lagi yang mengusik
aku kembali mengadu
aku kembali tak hendak berputus duka
karena memang tak sempurna
berlari dan terus berlari dengan sebutir do'a
dari tabuh subuh hingga gelap merayap
tak terbatas dalam aksara
aku sebutir harapan yang sedang melayang
adalah takdirNya yang harus terus ku tatap
meski kadang terbata
aku dengan segelintir sunyi mencari arti
berusaha menentramkan kegelisahan
aku membangun keberanian untuk bersahabat
do'o-do'a ini barangkali saksinya
atas sungguh ketidaksempurnaan jiwa
makanya aku terus menjari
menelusuri selaput serpihan permohonan
ampunan, kasih sayang, pemeliharaan,
bagiMu Rabb yang aku puja
aku tak berani banyak berharap
aku ingin belajar menjadi hamba yang tulus bersyukur
aku ingin belajar mengabdi dengan ikhlas
aku ingin belajar menjalani hari-hari penantian dengan sabar
aku ingin belajar berdo'a dengan secarik data
aku ingin menjadi bagian dari yang Engkau sayangi
aku ingin tetap dan tetap berdo'a
hingga suara ini beruban dan bahkan berubah menjadi segores kata saja
baris do'aku akan terus merayap di selubung waktu
hingga tak ada lagi yang mengusik
aku kembali mengadu
aku kembali tak hendak berputus duka
karena memang tak sempurna
berlari dan terus berlari dengan sebutir do'a
dari tabuh subuh hingga gelap merayap
tak terbatas dalam aksara
aku sebutir harapan yang sedang melayang
adalah takdirNya yang harus terus ku tatap
meski kadang terbata
aku dengan segelintir sunyi mencari arti
berusaha menentramkan kegelisahan
aku membangun keberanian untuk bersahabat
do'o-do'a ini barangkali saksinya
atas sungguh ketidaksempurnaan jiwa
makanya aku terus menjari
menelusuri selaput serpihan permohonan
ampunan, kasih sayang, pemeliharaan,
bagiMu Rabb yang aku puja
aku tak berani banyak berharap
aku ingin belajar menjadi hamba yang tulus bersyukur
aku ingin belajar mengabdi dengan ikhlas
aku ingin belajar menjalani hari-hari penantian dengan sabar
aku ingin belajar berdo'a dengan secarik data
aku ingin menjadi bagian dari yang Engkau sayangi
aku ingin tetap dan tetap berdo'a
hingga suara ini beruban dan bahkan berubah menjadi segores kata saja
baris do'aku akan terus merayap di selubung waktu
Wednesday, 21 October 2009
Istana Al-Qur'an dalam Khayalku
Nafas kakiku lirih mengetuk bingkai alam yang spektakuler. Eulogi dari hati untuk si kerdil yang belum jua paham adanya. Kisah Abu Bakr As Siddiq yang patriotik, bukan saja dalam menumpas pemberonta dan membebaskan Iraq serta Syam, tapi lebih dari itu. Zaid bin Tsabit menjadi icon paling kudu dibanggakan sampai peradaban kapanpun. Aku sendiri mengawinkan keinginan hati dengan lembaran dunia yang luasnya terbentang. Kemanapun berlari kesitulah batas berhenti. Ada intuisi yang kian kali membolak-balik di ujung hati. Sebaiknya kuhindari saja para filosof yunani, karena itu bagian dari belajar. Hari esok sebentar lagi, 1000 abad lamanya juga sebentar adanya. Peradaban islam pernah berjaya, namun tak lama. Jadi hari ini, akan aku ambil alih pekerjaan besar sosok yang aku idolakan itu kalau tak mau disebut meneruskan. Istana Al-Qur'an dalam khayalku, Allah bimbing mahklukMu yang satu ini. Bentangkan selebar-lebarnya pintu hidayah dan hikmahMu. Amin.........
Subscribe to:
Posts (Atom)