Resah.........semakin menjadi, sendiri dan semakin menyendiri.
berteriak meneriakan asmara hati. pecah dan hancur berbelah-belah, serentetat alur terukir di lorong-lorong
agregat yang retak menyambar butiran embun. semakin tidak bersuaka pada langit dan geluduk yang berselang.
Bukan karena lantaran petaka, bukan juga berbeda angkara. Semaunya saja angin siang manja, menukik di bukit barisan.
relaksasi yang gepeng, sangat selaras dengan benjolan ekolabel. Sakit, seuntai saja menular merambah resap di haluan kota.
Tepi di tengah jalan, gandrung dengan jaman.
butir-butir pusaka bergemerincing memuja dengan belaka dan apa adanya.
menangis saja di antar kata, semakin larut jua tangan lapuk. hati resah menambat luka, adakah sebenarnya yang percaya.
bukan ragu sementara, ragu ini berada bertahan lama.
Syurga Allah silaukan saja, berarti ada tangga bersedekah kesana.
Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn......................benarkah aku berteriak,
Allaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..................resah ini bergelora,
air..air........air.......dipelupuk mata...berguguran, butiranya rendah hati dan mengelupas dalam,
aku bersimpuh dengan kata-kata, karenanya sastra sebagai panglima.
Tuesday, 23 June 2009
Monday, 1 June 2009
Ibuku.............Kurindu padamu,
Entah pada hari yang keberapa aku kan pulang dan bersandar dipangkuanmu. Dulu aku kecil sangat manja, bahkan lebih dari manja. Rasannya baru kemarin aku bercanda, rewel, dan membuatmu sangat kesal meski kau berusaha menutupinya. Aku tau dari raut wajahmu yang menahan marah demi si buah hati ini. Sejak SD aku sudah tak bersamamu, kalau sempat paling pada bulan-bulan tertentu kita bersua. Begitu juga saat SMP, aku jauh darimu. Waktu SMA apalagi, engkau dimana dan aku dimana. Saat aku belajar di IPB, itu adalah jarak paling jauh selama aku berpisah denganmu. Allah kapan aku aku bisa bersua lagi dengan ibu untuk sedikit lebih lama, ya sedikit lebih lama......
Dulu aku masih terlalu kecil dan aku sama sekali belum berguna baginya, pun sekarang. Kini....aku juga masih jauh darinya, aku takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Allah aku rindu ibu..aku kangen ibu..aku ingin sekali dipeluk oleh kehangatan cintanya. Allah aku takut kehilangan ibu sebagai mana sebenarnya aku juga takut meninggalkan ibu. Selama ini karena menuntut ilmu aku dan ibu rela tak bersua walau itu berat rasannya. Karena ada harapan besar darinya dan dariku makanya dengan berat hati kami pun ber-azam. Allah ijinkan aku membahagiakan ibu, ijinkan aku berbhakti kepada ibu. Allah setiap air mata ini adalah rasa rinduku pada bunda tercinta tiada lain adalah ibu. Oh ibu sedang apa engkau disana,aku anakmu yang malang.........malang bukan kepalang karena tak juga bersua....... Aku ingin kita semua kembali ke Surga. Ibu bahkan aku tak sampai hati merasakan betul betapa perih rasa hatimu memikirkanku walau kadang aku tak menyadari. Ibu ...rasanya baru kemarin, ya benar-benar baru kemarin aku digendong, di manja, di bangunkan kala bobok dan yang paling memalukan adalah di ganti celananya karena ngompol. ibu........aku menangis untukmu.....aku bahagia lahir dari rahimmu,ibu ijinkan aku berbhakti padamu. Ibu Syurgaku ada di bawah telapak kakimu, tapi bukan semata karena itu aku mencintaimu tapi karena kesungguhan dan ketulusanmu mencintai putramu.
Ya Allah, jikalau ada kebaikanku barang sedikit kumohon ijinkan aku memberikan pahalannya untuk ibu, untuk kesembuhan ibu, untuk hari-harinya yang kian senja bersama kilau malam dan siang yang selalu bersaudara.
Dulu aku masih terlalu kecil dan aku sama sekali belum berguna baginya, pun sekarang. Kini....aku juga masih jauh darinya, aku takut kalau-kalau terjadi sesuatu padanya. Allah aku rindu ibu..aku kangen ibu..aku ingin sekali dipeluk oleh kehangatan cintanya. Allah aku takut kehilangan ibu sebagai mana sebenarnya aku juga takut meninggalkan ibu. Selama ini karena menuntut ilmu aku dan ibu rela tak bersua walau itu berat rasannya. Karena ada harapan besar darinya dan dariku makanya dengan berat hati kami pun ber-azam. Allah ijinkan aku membahagiakan ibu, ijinkan aku berbhakti kepada ibu. Allah setiap air mata ini adalah rasa rinduku pada bunda tercinta tiada lain adalah ibu. Oh ibu sedang apa engkau disana,aku anakmu yang malang.........malang bukan kepalang karena tak juga bersua....... Aku ingin kita semua kembali ke Surga. Ibu bahkan aku tak sampai hati merasakan betul betapa perih rasa hatimu memikirkanku walau kadang aku tak menyadari. Ibu ...rasanya baru kemarin, ya benar-benar baru kemarin aku digendong, di manja, di bangunkan kala bobok dan yang paling memalukan adalah di ganti celananya karena ngompol. ibu........aku menangis untukmu.....aku bahagia lahir dari rahimmu,ibu ijinkan aku berbhakti padamu. Ibu Syurgaku ada di bawah telapak kakimu, tapi bukan semata karena itu aku mencintaimu tapi karena kesungguhan dan ketulusanmu mencintai putramu.
Ya Allah, jikalau ada kebaikanku barang sedikit kumohon ijinkan aku memberikan pahalannya untuk ibu, untuk kesembuhan ibu, untuk hari-harinya yang kian senja bersama kilau malam dan siang yang selalu bersaudara.
Monday, 6 April 2009
Kupinjam Untai Hatimu
ada malam yang selalu gelap, memberi kesan klasik begitu mengintipnya. seakan ada mimpi yang coba mewarnai. perisai hati begitu tebal hingga membuat sentuhan alam terlalu dangkal. bukan ibukota namanya kalau tanpa realita. seakan tak jua ada cahaya yang merambat karena semua tepat adanya. Bidadari itu jelita dengan auranya, menanti kusam dan lapuknya si jiwa. di balik kilau malam, ada air mata yang sayang di telantarkan. sedih menjadi penawar dan bisikan sedunya menggemparkan. Bidadari, karena setia kau begitu rela menanti. Kupinjam untai hatimu untuk semangat hari ini, kau peluk mesra kesunyian malam demi sebuah pengabdian. Kau mencoba ceria, tertawa, dan bahagia walau itu tak sederhana.Bersama serpihan angin ku titipkan rindu untuk kau simpan, dan kuharap ada bidadari kecil yang kan menjagamu kelak. Menjadilah bidadari-bidadari Surga dengan ilmu dan amal..................
Monday, 30 March 2009
Hidayah itu Mahal.....
Tak sedikit butiran puisi telah mengisi hari-hari.hangatnya semangat senantiasa mendampingi sosok yang paling ingin tau diri. Semboyan hidup terus mengilhami dan lambat laun mulai menyentuh sisi hati. sejaman sudah cakrawala berkaca-kaca sekedar menanti datangnya rupa-rupa bahagia. bahagia yang tidak ada lebihnya lagi. Melalui rimbun di pagi hari, aku tapaki malam demi malam untuk sebuah esok yang cerah tidak saja karena sinar surya tapi juga karena cahaya amal. Semoga kian membalut bongkahan-bongkahan dosa yang kian membengkak oleh kepingan-kepingan tak bersahaja. Iman ini tidak jarang luntur, mungkin karena setan amat berazam...ya berazam untuk mencari sebanyaknya kawan untuk sama-sama menderita di neraka. Setan cukup sadar diri bahwa ia memang tak ada lagi kesempatan ke Surga. Apakah jiwa ini sudah cukup sadar bahwa setan tak pernah ridlo menatap ku di Surga. Itulah adanya ku sadar pula bahwa HidayahNya itu mahal. Teramat mahal untuk di sepelakan yang kadang di cukupkan dengan sholat lima waktu saja. aku malu..........malu.......karena untuk menjerat kita bahkan setan rela untuk tidak tidur selamanya.....Allah Izinkan Hamba berselimut Surga kelak.......amin,
Friday, 20 March 2009
Jika Boleh Kupinta
Terlalu angkuhnya aku telah membuat hidup seakan tak bernada. Rintih dan sayatan kedukaan selamannya menyisa dalam diri ini. Pasrah dan hanya berharap iba penuh nestapa itulah beta. Jika boleh kupinta darimu sahabat maka ijinkanlah aku mati dengan sholat sebagai hadiah darimu. Adakah orang yang ridlo menyolati mayatku yang bertaburan dosa ini. Aku tak pasrah begitu saja, yah aku punya mimpi saat kelak tubuh gontai ini telah menjadi jasad tak bernyawa, setidaknya ada lebih dari 1 juta insan yang ridlo menyolatiku.....ya menyolatiku, karena tak ada lagi kekuatanku untuk mengiba padaNya. Sisa amalkulah yang semoga menggendongku, mengantarkan kaki dan tangan untuk bersaksi di persaksian tanpa dusta. Sholatmu adalah mimpiku di detik-detik kalkulasi amalku yang rasanya tak berani kuhitung ulang demi sebuah Surga yang terlalu berharga yang ku tau amalku tak sehebat para nabiku. Kesadaranku cukup menguat setapak tapi pasti amal kecilku yang semoga melahirkan maha karya untuk sebuah sholat atas kepergianku meninggalkan penjara nan fana ini. Allah ijinkan hamba berkarya...........
Wednesday, 4 March 2009
Merapat dalam sunyi
tertuang begitu jernih nilai-nilai moral itu. bahkan telah memberi makna dalam sejarah kematian hatiku, ketakutan yang yang tak pantas telah begitu mengiba didada. sesak dan teramat sesak lantaran dosa yang tak terelakan. Aku bukanlah seorang mujahid perang di palestina yang sungguh Surga seakan dihadiahkan. Aku..............sekeping hati yang perlahan berlari mencari kebenaran hakiki.Langit impianku jauh tinggi mengangkasa membawa sejumlah logam keberanian. Ingin ku rajut patahan-patahan cintaku dalam damai sanubari bersama hari yang setia menemani. Aku berbaris rapi merapat dalam sunyi zaman ini untuk sebuah negeri yang mengabadi.
Saturday, 21 February 2009
Saat Batu nisanku Miring
Kukecup dalam-dalam butiran waktu yang berselang, Sembari menanti jarak antar pagi yang terus berjalan. Termaknai sudah oleh langkah kaki yang tak henti melintasi jemari hari. Barangkali itulah tanda-tanda saat akan mati.... lirih...tapi pasti. Gerah kurasakan bibir penuh duri ini walau telah kupatahkan dengan baja tak bertali. Mungkin esok atau lusa aku tak lagi berkawan tentunya bukan karena terlalu menawan atau kian tampan. Sudah semestinya tanah itu menjadi penginapan terakhir kala hujan tak lagi menunggu payung, kala terik tak lagi menunggu pohon nan rindang. Kepayahan ini terjawab sudah oleh titik amal yang melegenda dan terukir di koridor jagad raya. Tapi ada satu hal yang kuharap tak kau lupakan, kumohon duhai kawan...karena bahkan aku tak sanggup berdiri lagi, sekedar menegakan nisan miringku sendiri atau beberapa helai rumput yang mengusik diatas pusaraku. Kalau kau kira pernah ada kebaikanku padamu walau itu tak bernilai, sudilah sejenak engkau atau anak cucu engkau atau karib kerabat engkau berbelas kasih menegakkannya lagi untukku untuk makhluk yang tak luput dari kerak dosa yang semoga itu menjadi simbol bahwa aku masih sanggup berdiri gagah mempertanggungjawabkan perbuatanku. Biar lelah ini sedikit terwarnai, biar sunyi ini kian terjaga oleh hari, karena aku terlalu gontai untuk bertahan, atau setidaknya lumut dosaku tak juga berjejal di pembaringan terakhirku. Aku bukan siap-siapa untuk kemewahan dan kekuasaan, apa lagi ketenaran. Aku takut tak ada Ridho untuku oleh karenannya kupilih air mata walau kutahu takan cukup sebab aku terlampau sesak oleh dosa-dosa............
Subscribe to:
Posts (Atom)