Monday, 6 April 2009

Kupinjam Untai Hatimu

ada malam yang selalu gelap, memberi kesan klasik begitu mengintipnya. seakan ada mimpi yang coba mewarnai. perisai hati begitu tebal hingga membuat sentuhan alam terlalu dangkal. bukan ibukota namanya kalau tanpa realita. seakan tak jua ada cahaya yang merambat karena semua tepat adanya. Bidadari itu jelita dengan auranya, menanti kusam dan lapuknya si jiwa. di balik kilau malam, ada air mata yang sayang di telantarkan. sedih menjadi penawar dan bisikan sedunya menggemparkan. Bidadari, karena setia kau begitu rela menanti. Kupinjam untai hatimu untuk semangat hari ini, kau peluk mesra kesunyian malam demi sebuah pengabdian. Kau mencoba ceria, tertawa, dan bahagia walau itu tak sederhana.Bersama serpihan angin ku titipkan rindu untuk kau simpan, dan kuharap ada bidadari kecil yang kan menjagamu kelak. Menjadilah bidadari-bidadari Surga dengan ilmu dan amal..................

Monday, 30 March 2009

Hidayah itu Mahal.....

Tak sedikit butiran puisi telah mengisi hari-hari.hangatnya semangat senantiasa mendampingi sosok yang paling ingin tau diri. Semboyan hidup terus mengilhami dan lambat laun mulai menyentuh sisi hati. sejaman sudah cakrawala berkaca-kaca sekedar menanti datangnya rupa-rupa bahagia. bahagia yang tidak ada lebihnya lagi. Melalui rimbun di pagi hari, aku tapaki malam demi malam untuk sebuah esok yang cerah tidak saja karena sinar surya tapi juga karena cahaya amal. Semoga kian membalut bongkahan-bongkahan dosa yang kian membengkak oleh kepingan-kepingan tak bersahaja. Iman ini tidak jarang luntur, mungkin karena setan amat berazam...ya berazam untuk mencari sebanyaknya kawan untuk sama-sama menderita di neraka. Setan cukup sadar diri bahwa ia memang tak ada lagi kesempatan ke Surga. Apakah jiwa ini sudah cukup sadar bahwa setan tak pernah ridlo menatap ku di Surga. Itulah adanya ku sadar pula bahwa HidayahNya itu mahal. Teramat mahal untuk di sepelakan yang kadang di cukupkan dengan sholat lima waktu saja. aku malu..........malu.......karena untuk menjerat kita bahkan setan rela untuk tidak tidur selamanya.....Allah Izinkan Hamba berselimut Surga kelak.......amin,

Friday, 20 March 2009

Jika Boleh Kupinta

Terlalu angkuhnya aku telah membuat hidup seakan tak bernada. Rintih dan sayatan kedukaan selamannya menyisa dalam diri ini. Pasrah dan hanya berharap iba penuh nestapa itulah beta. Jika boleh kupinta darimu sahabat maka ijinkanlah aku mati dengan sholat sebagai hadiah darimu. Adakah orang yang ridlo menyolati mayatku yang bertaburan dosa ini. Aku tak pasrah begitu saja, yah aku punya mimpi saat kelak tubuh gontai ini telah menjadi jasad tak bernyawa, setidaknya ada lebih dari 1 juta insan yang ridlo menyolatiku.....ya menyolatiku, karena tak ada lagi kekuatanku untuk mengiba padaNya. Sisa amalkulah yang semoga menggendongku, mengantarkan kaki dan tangan untuk bersaksi di persaksian tanpa dusta. Sholatmu adalah mimpiku di detik-detik kalkulasi amalku yang rasanya tak berani kuhitung ulang demi sebuah Surga yang terlalu berharga yang ku tau amalku tak sehebat para nabiku. Kesadaranku cukup menguat setapak tapi pasti amal kecilku yang semoga melahirkan maha karya untuk sebuah sholat atas kepergianku meninggalkan penjara nan fana ini. Allah ijinkan hamba berkarya...........

Wednesday, 4 March 2009

Merapat dalam sunyi

tertuang begitu jernih nilai-nilai moral itu. bahkan telah memberi makna dalam sejarah kematian hatiku, ketakutan yang yang tak pantas telah begitu mengiba didada. sesak dan teramat sesak lantaran dosa yang tak terelakan. Aku bukanlah seorang mujahid perang di palestina yang sungguh Surga seakan dihadiahkan. Aku..............sekeping hati yang perlahan berlari mencari kebenaran hakiki.Langit impianku jauh tinggi mengangkasa membawa sejumlah logam keberanian. Ingin ku rajut patahan-patahan cintaku dalam damai sanubari bersama hari yang setia menemani. Aku berbaris rapi merapat dalam sunyi zaman ini untuk sebuah negeri yang mengabadi.

Saturday, 21 February 2009

Saat Batu nisanku Miring

Kukecup dalam-dalam butiran waktu yang berselang, Sembari menanti jarak antar pagi yang terus berjalan. Termaknai sudah oleh langkah kaki yang tak henti melintasi jemari hari. Barangkali itulah tanda-tanda saat akan mati.... lirih...tapi pasti. Gerah kurasakan bibir penuh duri ini walau telah kupatahkan dengan baja tak bertali. Mungkin esok atau lusa aku tak lagi berkawan tentunya bukan karena terlalu menawan atau kian tampan. Sudah semestinya tanah itu menjadi penginapan terakhir kala hujan tak lagi menunggu payung, kala terik tak lagi menunggu pohon nan rindang. Kepayahan ini terjawab sudah oleh titik amal yang melegenda dan terukir di koridor jagad raya. Tapi ada satu hal yang kuharap tak kau lupakan, kumohon duhai kawan...karena bahkan aku tak sanggup berdiri lagi, sekedar menegakan nisan miringku sendiri atau beberapa helai rumput yang mengusik diatas pusaraku. Kalau kau kira pernah ada kebaikanku padamu walau itu tak bernilai, sudilah sejenak engkau atau anak cucu engkau atau karib kerabat engkau berbelas kasih menegakkannya lagi untukku untuk makhluk yang tak luput dari kerak dosa yang semoga itu menjadi simbol bahwa aku masih sanggup berdiri gagah mempertanggungjawabkan perbuatanku. Biar lelah ini sedikit terwarnai, biar sunyi ini kian terjaga oleh hari, karena aku terlalu gontai untuk bertahan, atau setidaknya lumut dosaku tak juga berjejal di pembaringan terakhirku. Aku bukan siap-siapa untuk kemewahan dan kekuasaan, apa lagi ketenaran. Aku takut tak ada Ridho untuku oleh karenannya kupilih air mata walau kutahu takan cukup sebab aku terlampau sesak oleh dosa-dosa............

Wednesday, 28 January 2009

agama , ajari aku

sudah berjarak aku berjalan, melangkah ditepi waktu. Tak kurang kurang kutemui alamat agama ini. Indah dan sempurna, kuakui penataan etika hidupnya bagus meskipun aku harus puas menatap pencurian, kriminalitas, korupsi,suap, dan lain lagi banyaknya yang dilakukan oleh penganutnya. Aku bangga dengan konsep perekonomiannya yang mengedepankan sedekah dan zakat, meskipun sedang terjadi nyata dihadapanku ada carut marut kemisiinan, kelaparan, penimbunan harta, dan penindasan oleh penganutnya. Ketika mengutip ayat-ayatnya keyakinanku kian mengkristal, tak ada miras, tak ada zina luar biasa.Meski kenyataan hari bertolak belakang, seolah tak miras,tak judi, dan tak pacaran itu tabu.apa aku yang terlalu lugu menafsirkan, hingga tak ada kutemukan indahnya ayatnya merajut dalam realisasi kehidupan negeriku.Wajar saja kalo orang 'barat' mencibirku, ih orang 'timur' yang sok suci. aku malu tapi ini negeriku, ini saudara dan saudariku. mohon ijinkan aku untuk paham untuk mengerti untuk memaknai dan untuk menanamkan kebanggaan tak terhenti.

Wednesday, 21 January 2009

Hati Nurani

Sejak kecil perasaan itu selalu mengawali, meraba dinding biru kehidupan. Seakan kesuciannya tak terkalahkan. Hati nurani tidak jarang bahkan sering menjadi ujung sebuah ke egoisan. Tidak salah sebenarnya, namun kepatutanlah yang harusnya diutamakan. Sudah merasa puas setelah semua di kembalikan kepada “hati nurani”.Sekedar ingin menyapa seraya mengingatkan duhai yang punya dan bangga akan hati nuraninnya. Bersihkah hati itu dari hasad, hasud dan dengki. Atau bersihkah hati itu dari tak malu duduk bersama si miskin di depan rekan-rekan kita. Keinginan untuk memegang kebenaran atas nama hati nurani, tidak mustahil menjadi bumerang karena kebodohan diri. Bisa jadi bukan hati nurani yang jadi sandaran tapi egois dan merasa paling sucilah yang mengantarkannnya. Terlalu dini menganggap diri suci dengan kejernihan hati nurani. Akuilah ilmunya orang-orang yang berilmu dan bergurulah. Itulah panggilan hati nurani yang sesungguhnya, mengarahkan pada sebuah kebaikan dunia dan akhirat, bukan pada kekuasaan, ketenaran, dan kepopuleran pemikiran.